Nostalgia di The 90’s Festival


doc.pribadi galeri 90s fest / unknown
By: admin indiejakarta
Posted: 25, Dec 2017

Tulisan oleh : Danny Wahyu Setiawan

Pada hari Sabtu, tanggal 25 November 2017 yang lalu, saya dan istri datang ke acara yang menurut saya, salah satu event terbaik tahun ini, yaitu The 90’s Festival. Perhelatan The 90’s Festival tahun ini menjadi ajang yang ketiga kalinya diadakan oleh promotor Accellara Entertainment. Buat saya sendiri,The 90’s Festival tahun ini menjadi yang kedua kalinya saya sempat hadiri,setelah saya sempat hadir juga di The 90’s Festival kedua di bulan November 2015 di Istora Senayan. Sedangkan The 90’s Festival yang pertama waktu itu diadakan di Bandung bulan Februari 2015, nah saya gak sempat datang waktu itu.

Alasan saya datang ke The 90’s Festival sama sih seperti alasan sayawaktu datang yang di tahun 2015 lalu, gak lain gak bukan adalah ya kepengen nostalgia, haha…Mengenang segala sesuatunya di tahun 90’an, era dimana saya menghabiskan masa remaja, era yang terbaik menurut saya. Beruntunglah mereka yang sempat merasakan era tahun 90’an itu.

So, kembali ke acara The 90’s Festival 2017, saya dan istri tiba di venue, yaitu Gambir Expo Kemayoran, sekitar jam 14.30, karena menurut jadwal, penampil pertama yaitu TIC Band, akan tampil tepat jam 15.00. Setelah masuk ke venue, kami pun langsung berfoto dulu di photobooth, sayup-sayup terdengar TIC Band sudah memulai penampilannya, tapi saya dan istri melipir ke Tokopedia Stage, dimana Wayang akan tampil jam 15.10.

Oh iya, venue The 90’s Festival 2017 ini lebih luas daripada yang tahun 2015 lalu di Istora Senayan. Ada 4 panggung yaitu selain Tokopedia Stage yang saya sebutkan tadi, ada juga Grab Hardtop Stage, MLD Spot Viewmaster Stage dan Wardah 90’s Icon Stage. Jarak antara masing-masing panggung relatif, ada yang berdekatan dan ada pula yang berjauhan. Seperti misalnya jarak dari Tokopedia Stage yang tampaknya merupakan panggung utama, bersebelahan jaraknya dengan Grab Hardstop Stage. Namun dari kedua panggung tersebut, untuk menuju kedua panggung lainnya terbilang lumayan jauh.

Wayang tampil tanpa drummer cilik mereka dulu, Gilang, yang sedang bekerja di luar negeri. Posisi drummer digantikan oleh temannya Gilang juga. Lagu Damai dan Dongeng, Sebelum Tidur, tak lupa dibawakan oleh mereka, dan membuat penonton bernyanyi bersama.

Setelah Wayang, kami pun beranjak ke Viewmaster Stage, dimana Oppie Andaresta sudah tampil beberapa saat. Tetap dengan gayanya yang rock n’ roll, Oppie yang ditemani Boris, gitaris The Flowers, membawakan hits-hitsnya seperti Cuma Khayalan dan tentu saja Ingat-Ingat Pesan Mama yang fenomenal itu, yang menjadi penutup aksinya sore hari itu.

Selanjutnya saya kembali ke Tokopedia Stage, dimana Shaden akan tampil berikutnya. Mengawali penampilan mereka dengan lagu Pacarku, Shaden suksesmembuat penonton ikutan bernyanyi. Nuri Shaden terlihat beda dari yang dulu. Yaiyalah..secara sekarang dia sudah menjadi ibu-ibu pejabat, hehe.. (Nuri Shaden sampai saat ini tercatat menjadi anggota DPRD DKI dan menjabat sebagai Bendahara Fraksi Partai Gerindra). Shaden mengakhiri penampilan mereka dengan lagu hits mereka yaitu Dunia Belum Berakhir yang membuat penonton bergoyang dan bernyanyi bersama.

Setelah Shaden, saya beranjak ke Wardah Stage, tapi D.O.T yang digawangi oleh drummer sekaligus vokalis Eza Yayang baru saja menyelesaikan set mereka dengan lagu Jangan Jangan. Saat saya sampai, Eza Yayang turun dari panggung, menyalami penonton dan berfoto bersama.

Saya  gak beranjak dari Wardah Stage, karena menurut jadwal, setelah ini Purpose, band Ska asal Bandung, akan tampil berikutnya. Tak berapa lama pun Purpose akhirnya naik panggung. Area penonton masih agak lengang, saya pun masih leluasa untuk Skankin’ bersama 1-2 orang lainnya. Setelah beberapa lagu, penonton pun semakin ramai. Purpose semakin menggila membawakan lagu-lagunya seperti Tiger Clan dan Scooby Doo. Penonton semakin banyak yang Skankin’. Purpose mengakhiri set nya dengan membawakan lagu Anak Sekolah milik Alm. Chrisye.

Setelah itu, break Maghrib. Kami pun mencari makan malam di area food court. Setelah makan malam kami sempat berkeliling ke booth-booth yang ada. Sama seperti The 90’s Festival tahun 2015 lalu, booth-booth kali ini diisi dengan aneka pernak-pernik 90’an, seperti koleksi mainan jadul, koleksi buku-buku cerita dan majalah 90’an, sampai ke aneka makanan dan snack yang pernah hits di tahun 90’an. Senang sekali kami melihat itu semua. Seperti memasuki mesin waktu yang membawa kami kembali ke tahun 90’an.

Setelah berkeliling melihat pernak-pernik 90’an, kami sempat melewati booth karaoke khusus lagu-lagu 90’an yang dipandu oleh Oom Leo dan Eddy Brokoli. Sempat ingin ikutan berkaraoke, tapi karena sebentar lagi P-Project akan tampil, niat itu kami urungkan. Kami lalu bergegas menuju Grab Hardtop Stage, terlihat penonton sudah banyak yang menunggu P-Project tampil. P-Project pun sukses mengocok perut kami dengan aksi panggungnya, yaitu perpaduan lawak dan musik. Lagu-lagu hits mereka pun dibawakan seperti Antrilah di Loket, Kambing Liar Mak Onah, Mencontek, dan lagu pamungkas Kop &Heiden.

Melewatkan Reza Artamevia, kami pun menuju ke Wardah Stage, dimana salah satu penampil yang menjadi alasan saya untuk datang ke The 90’s Festival tahun ini, yaitu Stinky, akan tampil berikutnya. Ya, salah satu alasan terkuat saya untuk datang adalah ingin menyanyikan lagu-lagu Stinky bersama dengan penonton lainnya. Memang seperti itulah akhirnya yang terjadi malam itu. Stinky sukses membuat koor masal dengan lagu-lagu hitsnya, seperti Jangan Tutup Dirimu, Tiada Lagi, CintaSuci dan Rindu Untuk Dia yang di-medley, tak ketinggalan mereka membawakan juga sepenggal lagu Always milik Bon Jovi, haha.. Andre Stinky yang kini tercatat sebagai salah satu pelawak nomor wahi di negeri ini, sukses membuat penonton tertawa melalui banyolan-banyolannya di atas panggung. Malah mungkin durasi dia ngelawak lebih lama waktunya daripada saat dia bernyanyi malam itu, haha..Mengakhiri aksi mereka dengan lagu fenomenal, Mungkinkah, Stinky membuat ribuan penonton yang menyaksikan penampilan mereka malam itu turut bernyanyi bersama, termasuk saya. Sungguh membuat merinding saat kami menyanyikan lagu itu bersama-sama. Menurut saya, penampilan Stinky malam itu adalah salah satu performa terbaik di The 90’s Festival 2017.

Setelah itu, kami pun kembali ke Tokopedia Stage, dimana Sixpence None The Richer akan tampil berikutnya. Ya, band asal Amrik ini menjadi bintang tamu luar negeri, setelahpada The 90’s Festival tahun 2015 lalu Frente yang diundang untukd atang ke Indonesia. Bagus juga konsep The 90’s Festival ini, di tiap pagelarannya mereka mengundang satu band luar negeri (yang berasal dari era 90an tentunya) sebagai penampil. Sixpence None The Richer mengawali penampilan mereka dengan lagu Don’t Dream It’s Over yang cukup dikenal penonton. Selebihnya lagu-lagu lain tidak familiar dengan penonton, kecuali tentu saja hits mereka seperti Kiss Me dan There She Goes dimana penonton ikut bernyanyi bersama Leigh Nash, vokalis mereka. Selebihnya penonton lebih banyak diam menyaksikan penampilan mereka. Endingnya pun terlihat seperti anti klimaks, seharusnya mereka membawakan There She Goes sebagai lagu penutup, tapi malah lagu lain seperti yang kebanyakan penonton tidak mengenalnya.Ya, masukan aja sih untuk penyelenggara The 90’s Festival, mungkin di perhelatan selanjutnya, kalau mau undang band luar, bisa diundang band-band/musisi-musisi yang hitsnya banyak dikenal oleh penggemarnya di Indonesia.

Setelah Sixpence None The Richer selesai, istri saya ingin nonton Potret di panggung sebelah. Tapi apa daya, saat kami beranjak kesana, penonton sudah penuh mulai dari depan, samping, hingga ke belakang. Akhirnya kami pun hanya melihat Potret dari kejauhan dan akhirnya duduk karena kaki kami sudah sedemikian pegalnya setelah sejakdari siang tadi wara-wiri kesana-kemari. Kami pun hanya duduk di kejauhan sambil mendengarkan Potret membawakan lagu-lagunya seperti Diam, Bunda, Salah dan Mak Comblang.

Akhirnya sampailah kepada penampil pamungkas di The 90’s Festival  ini, yaitu Dewa-19 feat Ari Lasso, vokalis pertama mereka dulu. Jujur, saya jabanin nonton Dewa-19 karena respect dengan Ari Lasso nya, bukan dengan yang satu lagi itu (if you know what I mean). Lagu-lagu yang dibawakan Dewa-19 malam itu adalah semua lagu hits mereka dari album-album dimana Ari Lasso yang menjadi vokalisnya. Elang, Kirana, Cukup Siti Nurbaya, Kangen, Aku Di Sini Untukmu, Cinta Kan Membawamu Kembali, adalah sebagian dari hits mereka yang dinyanyikan secara ciamik sekali oleh Ari Lasso malam itu. Saya harus akui, Ari Lasso adalah salah satu vokalis terbaik negeri ini. Kualitas vokalnya takperlu diragukan lagi.

Ada satu momen lucu malam itu, di pertengahan show, Ahmad Dhani sempat menyanyikan satu lagu (saya lupajudul lagunya, bukan lagu hits mereka soalnya), sementara Ari Lasso beristirahat dulu di sisi panggung. Setelah lagu itu selesai, Dhani seperti keenakan nyanyi, meminta Andra (gitaris Dewa-19) untuk lanjut membawakan lagu Aku Cinta Kau dan Dia. Sepertinya lagu itu tidak ada di setlist mereka malam itu. Andra pun berkata bahwa dia tidak ingat kordnya. Dhani pun kembali ke perangkat keyboardnya, hendak memainkan keyboard sembari menyanyikan Aku Cinta Kau dan Dia. Tapi terdengar teriakan-teriakan dari sisi penonton sebelah kanan, penonton berteriak “Ari…Ari…”, meminta Ari Lasso bernyanyi kembali. Dhani pun akhirnya berujar.. “Oh iya iya..Ri, tuh disuruh nyanyi lagi Ri..”. Ari Lasso yang sedang duduk di sisi panggung pun akhirnya kembali tampil menuju microphone nya. Hehehe..

Dewa-19 menutup penampilan mereka dengan lagu Kamulah Satu-Satunya dan kami anak-anak generasi 90an menyanyikan secara bersama-sama lagu yang menjadi salah satu hits tahun 90an itu.

Itulah pengalaman saya saat datang ke acara The 90’s Festival tahun ini. Secara kualitas memang sedikit lebih baik sih daripada tahun lalu. Semoga acara The 90’s Festival  ini akan terus berjalan setiap tahunnya, karena kami, generasi 90an, akan selalu merindukan masa-masa itu, dan The 90’s Festival lah salah satu yang bisa menjadi pengobat rindu kami.

Bravo generasi 90an. We’re the best!

Editor : Dicky Nuari