Manunggal Kusuma Wardaya : Menulis Musik Karena Kesenangan


Manunggal K. Wardaya/foto.dok.pribadi / unknown
By: Ahmad Budiarjo
Posted: 23, Feb 2014

Cukup unik memang ketika kita membicarakan soal musik, salah satu bagian dari cabang seni ini rasanya semua orang pasti pada menyukainya. Terlepas dari masalah apa itu soal selera masing-masing pendengar, batasan usia, atau bahkan profesi. Dari mulai tukang cukur rambut, tukang bangunan, polisi, hakim, jaksa, sampai-sampai presiden-pun pasti menyukai musik.

 Tidak serta merta memang setiap orang yang suka musik otomatis menjadi seorang musisi atau pemain musik, karena kemampuan setiap orang berbeda-beda. Ada yang karena menyukai musik hanya sebatas hiburan, ada yang karena memang pada dasarnya ingin jadi musisi tenar, sampai karena memang menilai musik itu adalah sesuatu yang menarik untuk dikaji dan ditelaah sehingga dituangkan jadi sebuah tulisan meski bukan lirik untuk lagu yang dia tulis.

Sama halnya dengan salah satu tokoh yang akan dibahas kali ini, sepertinya dia adalah orang yang kurang berjodoh untuk menjadi musisi, “Bagaimana kalau anda  menanyakan hal lain aza?” itulah yang dijawab kala saya menanyakan kenapa dia nggak ingin menjadi musisi. Tetapi untuk kontribusinya di hal lain terutama  untuk  menelaah dan menulis musik patut dijadikan apresiasi yang cukup diacungi jempol.

Memiliki background dengan rambut yang dibiarkan “gondrong” terurai lalu hiasan kumis tipis seperti halnya digambarkan musisi-musisi kebanyakan. Tapi dibalik “kesangaran” wajahnya tersebut kontras dengan profesi yang ternyata adalah seorang dosen dan pengamat hukum. Nah, namanya adalah Manunggal K. Wardaya, jika kalian seringkali membaca berita khususnya di media cetak seperti koran dan menemukan rubrik hukum rasanya nama tersebut tidak asing lagi kalian jumpai disetiap tulisan dalam kolom koran tersebut.

Sayangnya website ini tidak dikhususkan untuk menelaah tentang pasti atau ketidakpastian soal hukum, tapi saya sarankan kalian buka nadatjerita.wordpress.com . Sosok pribadi MK Wardaya yang ternyata sudah membuat sebuah buku bertajuk “Nada Tjerita” ini ternyata sama sekali tidak menulis soal polemik hukum, jauh diluar perkiraan dia lebih santai menulis didalam bukunya adalah soal keadaan sekitar yang dia amati dalam kehidupan sehari-hari, dan kategori musik adalah salah satu daya yang memikatnya.

Pria yang sangat mengagumi band legendaris Indonesia Dara Puspita ini rupanya sudah berkali-kali menjadi sorotan indie jakarta untuk menelaah seperti apa dirinya dalam menulis dan membicarakan musik. Memang soal selera menulis sepertinya beliau adalah senior yang diatas kertas sangat suka jenis musik di eranya seperti Koes Plus, Darpus, Panbers dan sebagainya.

Eiiiittss!Tetapi jangan salah duga dulu, siapa sangka beliau ternyata juga mengikuti perkembangan musik dari zaman ke zaman, sampai-sampai dari band anak muda didengar sekarang seperti Tengkorak, Rumah Sakit, Klarinet, Stereomantic sampai  White Shoes And The Couples Company beliau turut memperhatikan. Untuk itu kami indie Jakarta semakin penasaran seperti apa kisah seorang peneliti hukum yang ternyata juga meneliti musik.

Diluar menulis, Hobi dan kegemaran utama saya adalah mengumpulkan recordsdalam segala format (kaset, piringan hitam, dan Compact Disc), membaca, dan berkelana.”  Berikut adalah isi wawancara kami dengan beliau yang saat ini sedang berada di Indonesia karena sebelumnya lagi di Belanda untuk urusan kehidupannya :

Hola mas Manunggal, saat ini anda dimana? masih dibelanda?

Hola, Alles Goed Hier! Hoe gaat het met jouw? Saya sedang  pulang sebentar ke tanah air, melarikan diri dari musim dingin Eropa yang kejam. He he he

Insha Allah akhir Maret 2014 saya kembali lagi ke Nijmegen, Belanda.

Sebelumnya  anda membuat buku tahun lalu, bisa diceritakan soal buku anda?

Oky Hajiansyah Wahab dari penerbit Indepth yang berbasis di Lampung minta saya mengumpulkan aneka tulisan saya yang bergenre essay. Essay sendiri adalah kisah, dongeng, ceritera. Jadi itu buku soal kumpulan kisah-kisah alias dongeng-dongeng saya tentang hidup dan kehidupan. Oleh karenanya semua adalah true story, hasil amatan dan rasaan saya. Tidak melulu kisah perjalanan, tapi ada pula refleksi (renungan) mengenai hal kehidupan sehari-hari. Contohnya soal yang berhubungan dengan dunia metafisik, gaib. Apa yang saya tau, yang saya alami soal gaib, saya tulis di sana. Juga obrolan saya, sebagai manusia beragama dengan seorang kawan ateis. Ada pula ekspresi soal perpisahan dan berpisahan, amatan saya akan kota-kota seperti Amsterdam, Den Haag, Paris. Ada pula di buku itu surat yang saya tulis tahun 2004 waktu saya studi di Melbourne (Australia) serta surat pada Ibu saya yang saya tulis di Belanda yang menceriterakan keadaan saya di Belanda. Surat pada Ibu saya ini benar-benar tadinya adalah surat yang saya kirim ke Ibu, dan saya fikir tak apalah sekalian dimasukkan sebagai materi buku. Kunjungan saya ke bekas personil Dara Puspita di Belanda, perjumpaan saya dengan legenda gitar Benny Soebardja di Den Haag, serta pengalaman saya menonton konser Sepultura juga menjadi bagian dari buku itu. Total ada sekitar 50-an kisah. T

Anda seorang yang mengenyam pendidikan dijalur hukum  dan dosen pula, tapi di situs blog anda banyak sekali tulisan soal musik, terutama musik Indonesia jaman dulu?

Ya 2014 ini genap 21 tahun saya berkecimpung di dunia hukum. Studi S1 saya di UNSOED (Purwokerto), S2 di Monash University (Melbourne) hingga sekarang S3 di Belanda adalah soal Hukum.  Saya memang dosen di Fakultas Hukum UNSOED, sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Purwokerto, Jawa Tengah. Hukum identik dengan bahasa yang kaku dan formal, cukup berbeda dengan dunia musik dan sastra yang loose. Di luar kehidupan sebagai legal scholar, saya memang memiliki interest pada hal-hal berkaitan dengan musik dan sejarah, berkelindan dengan passion saya dalam tulis menulis dan membaca.  Saya mempunyai background sebagai jurnalis, oleh karenanya selain menulis perihal hukum dan sosial, juga terkadang menulis soal musik bahkan lirik. Untuk yang terakhir ini, saya menyumbang dua lirik untuk Pukelization, band brutaldeath dari Osaka, Jepang masing-masing berjudul Quick as Sick dan Post Devastation.  Kalau saya  kerap menulis dan mengamati musik jaman dulu karena itu bagian dari kesenangan saya, dan panggilan untuk turut melengkapi sejarah musik Indonesia. Tapi sebenarnya bukan melulu musik jaman dulu saja yang saya perhatikan. Saya pernah interview Ombat dari Tengkorak, dan juga menulis beberapa eventdan band underground semasa saya bekerja di Suratkabar. Beberapa tahun kemaren saya juga membantu Dapurletter.com menulis ulasan album-album baru dari God Bless, Deadsquad, hingga Suffocation. Saya juga mengisi review situs Indogrind milik Nyoman Sastrawan (Devoured, Jogja). Almarhum Dwinanda Satrio Ari (Rio Rottrevore) pernah meminta saya juga berkontribusi pada website Rottrevore yang membuat saya melakukan interview serta mengulas rilisan Rottrevore seperti Eternal Madness (Bali), Death Vomit (Yogyakarta).  Tentu karya dan perhatian saya tak sebanyak dan seintens mereka yang memang hidupnya fokus sebagai  journalist dan music observer, karena mereka yang memang berprofesi sebagai jurnalis musik ataupun pengamat musik memang  hidup di sana. Sementara saya memiliki tanggungjawab profesi yang utama sebagai pengajar dan peneliti hukum yang pula memerlukan alokasi waktu tersendiri yang cukup besar dan harus lebih diprioritaskan.

Tulisan soal musik anda ada apa saja?

Terakhir tulisan saya soal musik adalah mengenai kabar terkini eks DARA PUSPITA dan interview dengan Benny Soebardja (guitarist The Peels, Sharkmove dan Giant Steps) mengisi buku supertebal AKTUIL THE LEGEND. Semua  kita kini berada di era internet, kita bisa punya media sendiri termasuk blog, dan itu memberi kita kesempatan yang luas untuk mengekspresikan aneka hal yang kita minati dan sukai. Saya ada interview dengan band Rumahsakit (hello guys!) yang sebenarnya sudah selesai di awal 2013 tapi sampai sekarang masih terbengkalai di komputer saya karena selalu kalah dengan proyek disertasi saya. Biar telat nanti saya selesaikan juga. Mungkin nanti Indie Jakarta bisa menampungnya haha...

Anda penggemar Dara Puspita? Bagaimana menurut anda tentang mereka?

Saya memang penggemar Dara Puspita. Band perempuan ini unik, karena mereka memainkan instrumen mereka sendiri. Ini jarang dijumpai dalam perjalanan sejarah musik Indonesia. Sedikit yang melakukannya, dan sedikit yang sukses dan bertahan seperti Dara Puspita. Traxap dan Geger adalah dua dari sedikit saja band perempuan yang pernah kita punya, tapi mereka mungkin tak semenggedor Darpus.Mereka, anak-anak Darpus mulai dari nol, dari skill kemampuan yang katro. Tapi kenekatan mereka untuk sukses amat luar biasa. Dari kumpulan anak-anak Jawa Timur yang nothing, sampai rekaman di CBS London dan Decca Belanda, dari yang tak punya alat hingga memakai amplifikasi Marshall bertumpuk dan peralatan musik yang nomor wahid dari keringat mereka sendiri, dan dimana ketika rock n roll di tanah air adalah barang baru yang dilawankan dengan kesopanan dan kepatutan, apa yang mereka lakukan itu luarbiasa. Dan itu terjadi jauh sebelum era internet, di era 60-an. Mereka ini tidak seperti band-band lain, taruhlah Koes Plus, God Bless, AKA, SAS, Giant Step yang overexposed.  Sedikit yang menulis dan mau riset tentang mereka karena sumber dan akses informasi akurat Darpus memang terbatas. Kebetulan saya berjumpa dengan ex roadie mereka yang memiliki arsip-arsip berharga soal DARPUS, dan kami sama memiliki keinginan agar sejarah band ini bisa terdokumentasi. Maka lahirlah tulisan saya kolaborasi dengan Denny MR di salah satu edisi Rolling Stone Indonesia di tahun 2010. Cukup kick ass juga, karena banyak fakta yang baru terungkap dengan detail di sana soal kehebatan band ini. Untuk arsip foto yang begitu banyak itu telah saya share semua di Facebook Page DARA PUSPITA, tinggal search saja, pasti ketemu. Ada banyak arsip bootleg mereka selama live show di berbagai negara, rekaman-rekaman ganas mereka di panggung antara tahun 69 hingga 1971. Saya kira tinggal tunggu waktu saja hingga mereka, rekaman-rekaman live itu, bisa dirilis dalam format dan kemasan yang apik.  Ada berbagai label yang mencoba mendisuksikan kemungkinan itu dengan pihak-pihak terkait, saya hanya membantu sekadarnya saja.

Kenapa ingin sekali meneliti soal Dara Puspita?

Dara puspita itu band besar yang terlupakan, mereka memiliki makna kultural yang besar bagi musisi nasional. Spirit pencapaian perempuan di Indonesia. Mereka berangkat dari skill dan lagu-lagu yang culun. Mereka abadi karena musik mereka lugu, raw, tapi itu membuat mereka tetap eksotik. Mereka telah Go Internasional jauh sebelum Anggun C sasmi atau Agnes Monica, mereka sudah menggebrak liverpool jauh sebelum G-PLUCK Beatles. Lalu mereka rekaman di CBS London dan Decca Nederland, tapi kesemuanya itu tidak tercatat didalam sejarah.

Ada Koesplus, Guruh Gipsy, sampai The Blue Diamond anda tahu akan informasinya di situs anda tadi, dapat dari mana?

Pada dasarnya sumber pengetahuan soal sejarah tidak jauh-jauh dari metodologi penelitian sejarah juga. Kita melakukan analisa teks, melakukan interview, wawancara dengan pelaku sejarah. Yang terakhir ini juga kita terapkan teknik snowball: tanya satu pihak sampai ‘kering’ sumur pengetahuannya, minta dia kasih referensi dimana kita bisa gali lebih dalam lagi dst dst. Juga studi dokumen, entah berupa arsip foto, surat kabar, bekas tiket dll. Setelah semua data didapat, maka tugas selanjutnya adalah mengolah data itu secara kualitatif dalam kalimat. Misal saja, ada foto Lies AR memakai gitar BURNS, dan di kesempatan lain ada foto Tonny Koeswoyo memakai gitar itu. Hal-hal itu kita tanyakan pada pelaku sejarah: pada ex roadie Dara Puspita, pada Lies AR sendiri dan seterusnya dan seterusnya sehingga didapat info yang akurat dan detail soal gitar itu yang kemudian menjadi tulisan yang enak dibaca. Demikian juga saya menulis soal “Plus” yang terlupakan di tubuh Koes Plus. Koes Plus itu tidak hanya Murry yang Plus menggantikan Nomo, tapi ada orang lain juga bernama Adji Kartono alias Totok AR yang memperkuat Koes Plus di debut albumnya karena Jok Koeswojo menolak bergabung dengan band yang tak lagi bisa disebut Koes Bersaudara. Menguak sejarah dan menyodorkan ke masyarakat yang kemudian menjadi cabaran dan tantangan sejarah mainstream adalah hal yang menyenangkan kalau kita mampu melakukannya. Itu semua bukan tanpa resiko. Di salah satu komunitas Koes Plus di Facebook, saya dicerca sebagai mengarang-ngarang atas penggalian sejarah ini, padahal saya benar benar mewawancarai Adji Kartono alias Totok AR ini. Orang bahkan melecehkan keberadaan bassis pertama Koes Plus itu sebagai ekspresi ketidaksukaan atas upaya penggalian sejarah saya atas bassis pertama Koes Plus itu. Ketika saya mengemukakan erat dan akrabnya hubungan Koes Bersaudara dan Dara Puspita, tak kurang yang menuduh saya menonjolkan Dara Puspita. Ada fanatisme Koes Bersaudara yang terusik di sana. Terakhir saya bahkan dikeluarkan dari group Facebook penggemar Koes Plus, yang usut punya usut, akarnya adalah penolakan atas upaya saya merevisi sejarah Koes Plus yang mainstream. Tapi hal itu sudah biasa, kebenaran biasanya memang ditolak di awal-awal.

Buat anda apakah situs atau dokumen soal catatan musik di kita (Indonesia) itu jelek?

Kita mungkin bukan Amerika dimana semua rilisan musik terdokumentasi dan terdata dengan baik dan orang bisa merujuk pada satu lembaga yang didanai negara untuk mengakses informasi mengenai musik maupun karya seni pada umumnya. Perhatian terhadap musik juga tak sebesar pada olahraga. Kita lihat, televisi menganggarkan banyak waktu dan program untuk olahraga, tapi untuk musik secara khusus tidak ada. Ada Berita olahraga, tidak ada berita soal musik. Tapi lagi-lagi sebenarnya di era multimedia dan teknologi informasi seperti sekarang, semua itu bisa disiasati dan dimainstreamkan. Itu lebih baik daripada kita hanya sekedar menunggu bergeraknya negara atau bersikap melankolia tanpa berbuat apa-apa.

Jangan soal musisi legenda, soal pahlawan yang berjasa lewat perang saja banyak orang tidak tahu, bagaimana refleksi anda?

Kita kerap memaknai pahlawan sebagai semata mereka yang berperang, dan ini kemudian memberi banyak slot pada kalangan tentara. Padahal tidak selalu demikian. Tapi bisa dimengerti kalau di deretan pahlawan kita banyak dari unsur tentara maupun peperangan, karena sebelumnya pemerintahan kita bukan pemerintahan sipil yang kuat. Orde Baru Suharto adalah pemerintah dengan unsur militer yang kuat. Menemukan pahlawan yang tersembunyi atau disembunyikan memang perlu usaha, usaha penggalian dan pelurusan sejarah. Sampai kini orang lebih banyak mengerti Soekarno daripada Tan Malaka yang sebenarnya punya kapasitas sebagai Thomas Jefferson-nya Indonesia.  Dalam kondisi seperti ini, kita tak bisa banyak berharap pada negara akan siapa yang perlu kita teladani sebagai pahlawan. Kita sendiri harus pandai menggali dan menemukan kebenaran sejarah. Lepas dari itu esensi utama dipahlawankannya seorang figur kan pada tindakan dan pemikirannya yang layak diteladani, sehingga kepahlawanan tidak berhenti sebagai sekedar monumen peringatan atau aneka ritual saja tapi mampu menggerakkan orang ke arah yang baik, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga dalam kehidupan bernegara. Kita juga bisa menemukan pahlawan di sekitar kita, inspiring people, dan itu tak lagi dipandang secara konvensional sebagai melulu urusan negara. Ada banyak award, penghargaan terhadap berbagai figur maupun kelopmpok yang punya kontribusi besar pada masyarakat yang bisa kita temukan walau formally mereka bukan pahlawan dalam perspektif negara. Saya masih ingat betapa banyak pihak menyebut Rio Rottrevore sebagai Pahlawan Metal Indonesia, karena kontribusinya baik sebagai musisi maupun dedikasinya bagi skena metal Indonesia antaranya melalui Rottrevore, label tempat begitu banyak band metal tanah air berkarya. Pahlawan tak selalu mereka yang belum sama sekali diketahui, namun bisa juga figur-figur yang telah diketahui namun hanya sebagian kecil saja sisi hidupnya. Kartini misalnya, sejarah resmi kita hanya berkitar-kitar soal peran dia sebagai pejuang persamaan wanita melalui pendidikan. Seakan Kartini hanya mengajarkan baca tulis. Padahal itu wajah Kartini yang dikemukakan rejim kolonial. Sementara pemikiran Kartini yang kritis dan keras soal feodalisme, soal penolakannya pada sistem sosial yang membuat ketidaksamaan dalam konteks masa hidupnya itu sungguh luar biasa dan tidak banyak diekspos. Itu semua justeru kita dapati bukan dari sejarah resmi, melainkan dari buku Panggil Aku Kartini Saja, tulisan Pramoedya Ananta Toer. Pram sendiri dalam buku itu banyak ‘sekedar’ menampilkan kembali tulisan-tulisan Kartini yang tidak lolos sensor oleh pemerintah kolonial. Usaha-usaha masyarakat seperti dilakukan oleh Pramoedya ini (demikian juga usahanya untuk memberikan tempat lebih baik pada RM Tirtoadisuryo sebagai bapak Pers Nasional) bisa kita lakukan.

Nah, apa sih yang menjadikan media kita disini susah untuk mengulas band-band tadi?

Band pada masa lalu beda banget liputannya dengan band m,asa sekarang. Setiap personil harus dilacak dahulu keberadaannya. Diskografi mesti digali, sumber data juga harus ditemukan, semua ada konsekuensi dana, biaya dan waktu yang lebih daripada sekadar melakukan liputan terhadap yang existing group . coba bayangin, band sekarangkan jauh lebih mudah. Tinggal ketemu sama manajementnya lalu sodori pertanyaan-pertanyaan standar, kapan album keluar? Sedang sibuk apa? dan seterusnya...

Sekarang bahas buku anda, darimana dapat ide untuk membuat buku ini tadinya?

Saya pada awalnya hanya ingin mendokumentasi tulis aneka pengalaman kehidupan yang saya alami, dengan tujuan apa yang saya alami dan pelajari itu bukan saya saja yang menikmati, namun bisa dirasakan dan dinikmati orang lain. Saya menulis, supaya saya enggak capek untuk berbicara dan menerangkan pada orang per orang. Dengan tertulis, melalui tulisan, saya bisa bicara pada banyak orang, dan bisa menyebar dari mulut ke mulut, dari kepala ke kepala. Menulis adalah sharing, berbagi. Kita hidup di era berbagi, berbagi kebijaksanaan, berbagi pengalaman, agar kwalitas hidup kita meningkat, semakin wise dalam berfikir dan bertindak. Membuat kita berfikir sebagai manusia, mengajak manusia lain untuk juga berfikir. Kalau kita masih berfikir, itu artinya kita masih jadi manusia.

Kalau untuk  warna musik kita dijaman sekarang menurut anda bagaimana?

Musik lahir dari aneka pemikiran dan ide, sebagai hasil dari lingkungan tempat ia dilahirkan. Perkembangan musik mengikuti dialektika Hegel juga. Tadinya musik pop dengan segala keteraturan dan kesantunannya. Ternyata itu tidak bisa memenuhi kebituhan jiwa kaum muda yang rebellious. Maka Little Richard bisa begitu diterima, karena ia rocking, shaking. Maka Elvis dan The Beatles juga digemari, karena mereka memberi apa yang tidak diberi para pendahulunya, dan seterusnya proses dialektika. Tahun 60an akhir hingga 70-an awal, terma underground berlaku untuk musik-musik a la Black Sabbath atau Uriah Heep. Kini  terma underground dalam konteks musik keras sudah sampai titik maksimal musik-musik metal ekstrim.  Ada improvement terus menerus, keemohan atas yang ajeg dan yang itu itu saja. Sound yang bening jernih menjadi distortif, attitude yang kalem dan sopan tergantikan dengan tawaran kebebasan dan keliaran Jim Morrison. Rambut rapi diganti dengan rambut diwal diwul a la Zeppelin, musik tiga menitan a la Beatles digantikan musik njlimet duapuluh menitan seperti Yes. Musik ternyata tidak sekedar soal telinga. Ia juga attitude, sikap dan lifestyle. Ia juga politik. Seringkali ia mewakili aspirasi politik dari kelas maupun golongan tertentu dalam masyarakat. Maka mendengarkan Jimi Hendrix juga bagian dari sikap anti perang, menyanyikan Dylan juga bagian dari protes. Musik melayani fantasi akan dunia lain, akan kematian. Maka dari situ lahir aneka genre pula. Ada yang galau, ada yang bicara kematian dan aneka setan. Sekali lagi teknologi telah memungkinkan musisi untuk lebih bebas berkarya. Kini rekaman Do It Yourself lebih bisa terwujud. Bisa memproduksi sendiri dengan relatif mudah dan cepat. Pertanyaannya: segenap kemudahan itu membuat kita kreatif atau justeru tumpul dan hanya melakukan pengulangan atau bahkan peniruan saja?

Apakah anda juga pengoleksi piringan hitam atau jangan-jangan semua dokumen soal musik Indonesia jaman dulu masnya juga simpan nih?

Saya pengumpul musik dalam spektrum yang amat luas. Kemampuan ekonomi saya terbatas, maka tentu yang saya koleksi juga terbatas. Koleksi saya tidak banyak, hanya sekitar 2500-an saja. Ini jumlah yang tak seberapa, karena banyak kawan dan relasi yang berlipat lipat dalam koleksi. Tapi setidaknya dengan merawat sebagian kecil album lama, kita bisa meneruskannya pada generasi selanjutnya, syukur kita bisa turun tangaan melakukan preservasi. Sekarang ini misalnya, saya membangun Facebook Page untuk mengenang dan mengapresiasi Zaenal Arifin, seorang musisi Indonesia yang bertanggungjawab atas aneka musik dahsyat Indonesia tahun 60-70an. Zaenal ini, petikan gitarnya menjadi ingatan kolektif masyarakat Indonesia, tapi nama dan perannya terlupakan. Kita lebih mengenal Scotty More-nya Elvis Presley daripada Zaenal Arifin. Saya tidak banyak mengoleksi piringan hitam, hanya beberapa saja, terutama dari Koes Plus dan Benyamin. Bagaimanapun kwalitas suara dari vinyl terbaik dari media penyimpanan manapun. Dalam konteks musik Indonesia, rekaman-rekaman lama dalam bentuk vinyl itu eksotis. Kita enggak mungkin kembali ke masa lalu, tapi dengan memutar atau bahkan memandangi aneka vinyl itu, masa lalu bisa dihadirkan kembali suasananya. Saya sering memutar piringan hitam The Steps yang berjudul Ke Bina Ria, sebagai mesin waktu bagi saya untuk kembali ke masa lalu, masa yang bahkan saya sendiri belum ada di dunia. It is always fun.

Selain musik Indonesia, anda suka musik-musik mancanegarakah? Contohnya?

Natuurlijk. Dalam 2500an koleksi saya itu ada nama-nama standar seperti Jimi Hendrix, Pink Floyd, maupun the Beatles dan the Rolling Stones. Untuk metal ada banyak nama standar pula dari Sepultura, Obituary, Kreator, Morbid Angel, Carcass, dan Terrorizer, nama-nama yang menjadi pilihan metalheads 90an di mana saya menjadi bagian di dalamnya. Saya juga banyak beli band-band metal lokal Indonesia, karena buat saya lebih eksotis dan limited. Antara nama-nama itu antaranya Sadistis, Jasad, Eternal Madness, juga Disinfected, Asphxiate. Tapi saya juga koleksi aneka musik pop rock seperti Suede, Keane, dan juga band-band baru seperti Simple Plan.

Dan eh ya, untuk perkara anda ingin menulis nih (apapun itu selain musik) apa langkah anda?

Tan Malaka menulis dalam Madilog, bahwa menulis itu seperti membangun rumah, membikin bangunan. Kita mesti ada bahan bangunan dulu yang cukup sehingga kita bisa mendirikan rumah. Semakin banyak bahan, semakin banyak asesoris, rumah kita semakin detail dan menawan. Menulis mesti banyak membaca, membaca di sini dalam arti luas, termasuk melakukan observasi. Dalam tulisan akademis tentu kita harus punya background teoretik yang kuat, sehingga analisa kita juga tajam. Tapi satu hal yang sederhana saja bisa diekspresikan menjadi tulisan yang baik kalau kita punya skill untuk mengolahnya. Skill itu dibentuk, melalui proses, walau kata teman saya yang berlatarbelakang dokter, skill itu juga ada faktor gen: diwariskan. Dalam buku Nada Tjerita, saya menulis Kisah Tentang Nanti, mengenai perjumpaan saya dengan seorang SPG kosmetik pada suatu malam di Surabaya pada 1996. Isinya hanya tentang saya yang bergandengan tangan dengan seorang perempuan SPG dalam suatu kesempatan malam hari di Tunjungan bersama beberapa kawan. Walau hanya bicara tentang gandeng tangan, tulisan itu banyak mendapat feedback yang memuji dari pembaca. Hal sederhana bisa menjadi sesuatu yang dahsyat kalau kita menggunakan rasa dalam mengekspresikannya dalam tulisan.

Untuk memiliki Buku Nada Tjerita bagaimana caranya?

Bisa hubungi:Kontak inbox via FB Page Nada Tjerita di Facebook, atau email ke manunggal.wardaya@gmail.com

 

Nah, buat kalian yang ingin tahu seperti apa proses interview beliau dengan para personil Dara Puspita kalian bisa check semuanya disini