Parisude Kemegahan Bermusik Lewat Duo Elektronik


Parisude/foto: dok.band / unknown
By: Ahmad Budiarjo
Posted: 12, Mar 2014

Indonesia sejatinya memang sudah diciptakan sangat kaya, beragam  budaya yang menghiasi hamparan pulau dari mulai sabang sampai merauke sudah sepatutnya kita jaga dan lestarikan keberadaannya. Coba lihat beberapa fakta yang negara ini miliki dimulai dari lagu-lagu, seni budaya, tarian-tariannya  sampai  ke jenis alat musiknya. Berapa banyak jenis yang dapat masuk ke dalam kepala yang anda ketahui? Jangankan negara barat, tetangga serumpun dengan indonesiapun sangat iri dengan apa yang kita punya. Ingat kasus Tari Reog? Ah sudah, semoga hal itu tidak sampai terulang lagi.

Sekarang teknologi semakin berkembang, banyak cara yang dapat kita tampilkan untuk menunjukkan betapa megahnya budaya ibu pertiwi ini. Lewat seni musikpun rasanya dua orang pemuda-pemudi inipun pantas disematkan kalau mereka sukses karena turut memperhatikan dan melestarikan keberadaan budaya musik Indonesia yang sebenarnya.  Pasangan duet tersebut memiliki band bernama Parisude, sebuah kata yang diambil dari bahasa kuno sansekerta.

Beberapa dari banyak band yang memasukkan unsur  musik tradisional budaya Indonesia yang menggugah Indie Jakarta kali ini adalah band parisude ini. Memang mereka hanya berdua, tetapi untuk masalah penampilan diatas panggung, parisude cukup membuat hati ini terbuka sampai-sampai membuat kita seakan disuguhi oleh sesuatu yang sangat  istimewa didepan mata.

Pasangan duo yang dinamakan parisude ini mengemas musik tradisional dengan balutan elektonik. Seperti apakah mereka?  Berikut adalah hasil wawancara kami untuk mengetahui mereka lebih lanjut, simak petikannya :

Parisude dari bahasa Sansekerta, apa artinya? kenapa kepikiran pakai nama itu?

Parisude berasal dari bahasa sansekerta, diambil dari kalimat "Trikaya Parisudha" yang artinya adalah 3 hal yang yang harus kita pegang dalam hidup yaitu "Pikiran, Perkataan dan Perbuatan" yang baik, dan parisude sendiri adalah "Perjalanan" dalam mencapai hal tersebut. Konsep ini yang membuat kami memakai nama "Parisude."


Kalian cuma berdua yah, kalau manggung bisa banyak personilnya itu teman-teman kalian?

Iya Parisude emg cuman berdua aja, tapi kalau live ada teman - teman yang bantu, seperti Estu Divinasto di bass dan Sabar dari band Young de Brock di perkusi.


Electronik dibalut Etnik, siapa penggagas musik ini pertama kali parisude terbentuk?


Awalnya sekitar tahun 2007 kampus kami mempunyai FTV club yang sedang menggarap film independent, kebetulan Mirza sebagai music director dan mengajak chitarra untuk mengisi vocal, hingga akhirnya pada tahun 2009 Chitarra mengajak Mirza untuk lebih mendalami lagi materi2 yang sudah ada dan membentuk grup, lahirlah Parisude.

Corak khas etnik sendiri selain ada di lagu kalian terdapat dimana lagi?

Mungkin bisa dilihat dari artwork kami, yang sedikit membaurkan gambaran tradisional seperti wayang ke dalam digital imaging. Yaa mungkin yang lainnya ada di dalam jiwa kami hahaha


Susah gak sih mainin musik etnik, secara hanya berdua?

Susah itu pasti pada awalnya, tapi justru itu tantangan untuk kami dalam prosesnya.

Kalian juga sudah buat album, bisa dijelaskan selama ini tentang album-album tersebut?

Album pertama kami adalah mini album yang bernamakan Sudut Pandang (EP), isinya ada 5 lagu yang rilis 31 September 2011. EP album ini merupakan suatu perkenalan musik kami kepada publik dan media kami untuk menerima kritik dan saran untuk lebih memperdalam karakter musik yang ingin kami bentuk. Pada saat kami mengerjakan EP, dari recording semua kita kerjakan sendiri (home recording) contohnya take vocal tanpa mic hanya direct langsung ke laptop, dan instrument semua full digital, tanpa mastering.

Di album "Trikaya Parisude" bisa di bilang lebih matang, dari segi recording mixing mastering, dan beberapa lagu kami benar2 menggunakan real instrument agar lebih hidup. Full album perdana kami ini rilis 30 Mei 2013 berisikan 11 lagu dimana 3 lagu kami berkolaborasi dengan Kunokini, Anindya Dimas, dan A.F.F.E.N. Instrument2 tradisional yang kami angkat jauh lebih banyak dari EP kami sebelumnya, seperti gamelan bali, angklung suling sunda & Bali, Rebana Padang, Kendang Betawi, Didgeridoo.


Sejauh ini respon penikmat musik bagaimana tentang ciri musik yang ada dikalian?


Selalu ada 3 respon dari pendengar, 1 yang menyukai dan mensupport, 2 yang menerima tapi memberikan kritik yang membangun dan yang ke 3 tidak peduli.


Kalian main itu kesannya memang megah banget, tapi apa memang seperti itu konsep kalian saat manggung atau ada yang lebih sederhananya?

Tergantung dari acaranya, kebutuhan acara, konsep, besarnya venue dan sound system, dll. Jika memungkinkan kami akan perform bersama additional players. Namun ada kalanya kita hanya perform berdua aja.


Punya pemikiran untuk membawakan lagu daerah? atau memang enakan buat lagu sendiri tapi dengan nuansa etnik?


Kami pernah membawakan lagu daerah seperti "Bandung" karya Koko Koswara bisa di download secara gratis di mamaneh.com , serta "Ondel-Ondel" & "Jali-jali" yang kami bawakan pada saat ulang tahun kota Jakarta 2013 kemarin. Tapi ya, kami memang lebih menyukai membuat lagu sendiri.


Nah, selama inikan kalian bawain musik etnik karena berasal dari elektronik ada keinginan jugakah saat main tapi pakai alat musik tradisional?

Ini yang lagi kami bangun dan ingin sekali tercapai bisa live dengan set gamelan, suling, dan instrumen tradisional lainnya. Saat ini kami masih mengembangkan di bagian perkusi.


Mengcover lagu coldplay juga nih ya?

Iya, Kami suka sekali dengan lirik dan aransemennya, dan penasaran seperti apa jika kami aransement ulang menggunakan karakter kami.

Terakhir, bagaimana sih kalian memandang dan melihat musik etnik di Indonesia?

Luar biasa, beragam dan indah, karena setiap daerah mempunyai karakter masing-masing dan benang merah diantaranya tetap ada.

Untuk segala informasi soal band ini kalian bisa ikuti mereka di twitter @parisude dan jika kalian tertarik mendapatkan albumnya, bisa sambangi: demajors.com , gigsplay.com , Duta Suara, Goods Dept, Ecobar 365 Kemang, atau bisa langsung tanya ke demajors sebagai distributor mereka, khususnya untuk yang di luar Jakarta.