Salam Perpisahan Bersama David Hersya untuk Musik


David Hersya (kanan)/foto: halamanganjil.blogspot. / unknown
By: Ahmad Budiarjo
Posted: 27, Apr 2014

Manusia  atau lebih tepatnya musisi yang dikisahkan dalam tulisan ini bukanlah seorang musisi yang terkenal dan bukan pula seseorang yang banyak  di sahut-sahutkan seperti halnya pemusik legendaris, sampai-sampai  menjadi bahasan dan buah bibir orang setiap hari. Tapi cukup tahulah kalian kalau orang yang di tulis disini telah menjadi sebuah kisah drama yang penuh misteri  dan mengundang tanda tanya (setidaknya) untuk sebagian orang yang mendengarkan karya-karyanya.

Tepat sepekan setelah menerima karya orang itu dalam bentuk bundle pack berisi dua buah keping cakram padat berjudul “Antologi SEMAKBELUKAR: Terlahir&Terasingkan 2009 – 2013” poster dan satu buah kaos oblong berwarna putih. Bundle pack ini dirilis oleh sebuah label kecil bernama Elevation Records, waktu mendapatkan bundle pack itu saya seperti merasa mendapatkan sebuah hadiah perpisahan tanpa air mata dari si pembuat karya.

Ya, salah satu manusia dibalik karya antologi itu bernama David Hersya, pria asal Kota Palembang dan memiliki band bernama SEMAKBELUKAR yang tepat pada Januari 2014 lalu membubarkan diri dari keramaian skena musik.

Apa yang membuat mereka semua terkesan istimewa? Toh, hanya sekadar band nun jauh disana dari ibukota. Memang, SEMAKBELUKAR bukanlah suatu band favorit dan bukan pula band yang selalu disorot media-media musik arus ternama. Tapi cukup tahu sekali lagi buat kalian, kapan lagi menemukan tulisan “Band Brengsek”  ketika band tersebut mulai menuai sorotan media tepat setelah mereka resmi membubarkan diri.

Mengutip apa yang  dikatakan Farid Amriansyah (((AUMAN))) dalam kutipan yang terdapat didalam sampul Antologi  tersebut “Menjadi Tradisional bukan berarti dangkal dan tak bisa mengembang citarasa kontemporer”. Dan memang, SEMAKBELUKAR  bukanlah band yang kita kenal kebanyakan di skena musik terutama berbasis di indie yang lebih memprioritaskan kebebasan berkarya, entah itu lirik ataupun teknik bermusik yang rawk. Justru sebaliknya,  SEMAKBELUKAR  malah memainkan musik tradisional melayu.

Kembali lagi kepada seorang yang menjadi suksesor di balik SEMAKBELUKAR yakni David Hersya, cukup kehabisan akal ketika saya menyusun pertanyaan untuk orang seperti ini. Sebelumnya saya tahu diri kalau mungkin pertanyaan-pertanyaan di bawah ini tidak dapat menghasilkan apa-apa atau bahkan hanya sekadar pertanyaan hiburan semata. Sebab dirinya memang benar-benar sudah bertekad bulat untuk ‘pensiun’ dari dunia musik.

Namun kembali lagi semuanya berasal dari kegelisahan yang saya alami selama ini, dan pada akhirnya dapat saya pecahkah lewat beberapa pertanyaan dibawah ini. Semoga tidak ada penyesalan berkepanjangan setelah membaca jawaban-jawaban dari seorang David Hersya karena memang inilah yang dirinya tuliskan untuk kita semua. Berikut cuplikan interviewnya :

Bagaimana perasaan anda saat ini setelah bubarnya SEMAKBELUKAR?

Alkisah, seseorang berada di suatu negeri yang dilanda kemarau panjang. Semua akibat dari kemarau panjang yang dirasa tak akan pernah berkesudahan tersebut, seketika hilang dan sirna oleh turunnya hujan. Apa yang orang itu rasakan?

Apakah sampai sekarang anda masih tetap belum menyentuh musik lagi?

Alhamdulillaah, saya bisa pastikan bahwa apa yang sangat saya niatkan adalah tidak lagi bersentuhan dengan musik dan dunianya. Semoga ini bukan hanya sebatas niat, tapi ia juga adalah tekad yang kuat, sekuat semburan lahar gunung merapi. Hehee . . .

Dan eh ya, bisa di ceritakan sedikit soal permulaan karier anda dalam bermusik?

Masalahnya, saya tidak pernah tahu bahwa musik adalah karier saya sebelum diberi pertanyaan ini. Saya takut, jika memang harus ada sedikit cerita, maka ia akan penuh dengan kebohongan. Hehee . . .

Boleh tahu anda sekarang sibuk apa? Apa masih menjadi seorang yang menukangi musikkah?

Sekarang, saya sedang sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaaan dari wawancara ini. Hahahaa . . .

Apa yang terbesit pertama kali di kepala anda saat berniat membubarkan SEMAKBELUKAR?

"Cukup sudah, sekarang saatnya untuk berhenti. Bismillaah"

Jujur, anda banyak mempengaruhi skena musik khususnya di Jakarta belakangan ini, dan disaat band anda mulai menuai hasil anda menghilang. Ini strategi atau bagaimana?

Wah, pengaruh itu pasti akan berakibat buruk kedepannya. Hahahaa . . . Ya, ini adalah strategi untuk pulang ke rumah tanpa membawa beban dan masalah.

Term musik melayu sendiri berhasil anda angkat , anda sendiri bagaimana memandang musik melayu?

hehee . . . Sejatinya, saya tidak pernah mengangkat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Lantas, bagaimana bisa saya memandangnya?

Apakah semua ini karena lirik-lirik lagu yang anda tulis sehingga menjadi boomerang anda untuk SEMAKBELUKAR lebih baik membubarkan diri?

Bukan, tidak seperti itu.

Sekarang membicarakan antologi SEMAKBELUKAR, bagaimana anda menyikapi karya ini?

Saya pasrah saja. hehee . . .

Bisakah dikatakan kalau SEMAKBELUKAR adalah one man show diri anda seorang?

Tepatnya, SEMAKBELUKAR adalah one man show dari setiap diri yang pernah terlibat dengannya. Dimulai dari saya, hingga anda. Bisa difahami maksud saya?

Di album antologi banyak karya-karya musik anda banyak juga yang jauh dari gambaran musik melayu, salah satunya out of my face yang terkesan metal itu, gimana ceritanya?

Emmm . . . anu . . . eee . . . ituuu . . . eee . . .

Untuk single No Exit itu merupakan karya paling tua? Menceritakan soal apa sih?

Iya, bisa dibilang begitu. Tidak ada yang diceritakan dalam lagu itu.

Mengingat sepertinya karya solo anda cukup banyak dalam antologi tersebut, punya niatan untuk bersolo karierkah?

hehee . . . pertanyaan selanjutnya !!!

Punya keinginan untuk mampir ke Jakarta lagi meski itu bukan sekadar untuk bermain musik?

Rasanya tidak mungkin saya bisa ke sana jika bukan karena musik. hehee . . .

Bicara soal Palembang, gimana sih perkembangan scene musik disana menurut anda?

Saya tidak pernah mengikuti lagi perkembangannya. Tapi saya kira, scene musik di sini masih sama seperti dulu ketika saya masih aktif di dalamnya.

Bagaimana reaksi anda ketika menghancurkan alat musik di panggung terakhir SEMAKBELUKAR?

Perasaan yang bercampur aduk. Namun setelahnya, kalau bisa saya ingin menghancurkan lebih banyak lagi alat musik, tanpa perlu bermain musik terlebih dahulu tentunya. Hahahaa . . .

Kendala apa saja yang anda hadapi saat bermusik waktu itu?

Hanya satu, demam panggung.

Cukup ‘kenyang’kah anda dengan hasil berkarya anda selama ini?

Iya cukup, sekarang tinggal hausnya saja. Hehee . . .

Penyampaian lirik di lagu-lagu anda sangat bermakna juga sarat akan pesan-pesan yang menjurus kepada spiritual, darimana sumber-sumber pesan itu anda dapatkan?

Whoaaaa . . . pertanyaan ini lagi. Semoga ini bukan titipan dari seorang Taufiq Rahman dan Arman Dhani. Hehee . . .

Terakhir, kegelisahan apa yang masih menyelimuti diri anda lepas dari bubarnya SEMAKBELUKAR?

Hanya satu, ketika nanti saya harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang telah saya lakukan.