Festival Teater Jakarta : Merayakan Kebebasan Menuju Pembaruan


BEBAS/foto: dok. panitia / unknown
By: Ahmad Budiarjo
Posted: 14, Dec 2014

Jakarta, sebagai kota dengan kegemerlapan tiada tara dibanding dengan kota-kota lain yang ada di Indonesia dan sekaligus pula menyandang predikat kota dengan penduduk terpadat di pulau jawa. Berbagai macam suasana beragam menghiasi nuansa dari ibukota Negara Indonesia ini, kesibukkan super padat, kebisingan berlalu lintas tiada henti, jerit-jerit kendaraan bermotor yang berpacu hendak  melawan waktu sang pemilik kendaraan, sampai kepada mereka yang (katanya makhluk sosial) terlalu asyik dengan layar kecil bertekhnologinya masing-masing dalam sebuah moda transportasi.

Dan, Jakarta dengan dengan segala interaksi yang ada didalamnya membuat kota ini nyaris tidak mencapai kata “tua” meski sudah hampir setengah abad berlangsung. Hanya saja dari segala rutinitas dan interaksi yang semakin kesini semakin tak terkendali membuat ruang gerak untuk berekspresi lantas terabaikan.

Beratus-ratus gedung pencakar langit dengan sombongnya dibuat untuk berdiri kokoh sampai harus menumbangkan ribuan pohon disekelilingnya, ruang-ruang kota yang tadinya ditujukan untuk lahan bermain anak-anak harus rela dikorbankan untuk tempat parkir kuda besi si pencipta kesibukkan, dan masih banyak lagi anomali-anomali yang ada di Jakarta sehingga terkesan angkuh untuk mereka yang ingin berekspresi secara bebas.

Setidaknya, cuplikan mengenai jakarta tadi adalah sekelumit gambaran yang tertuang kedalam sebuah perhelatan festival seni teater yang berlangsung selama kurun waktu kurang lebih sepuluh hari (5 – 15) desember di pusat kebudayaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Festival Teater Jakarta adalah bentuk nama dari sekuel acara yang berlangsung hingga sekarang dan sudah menginjak usia ke – 42 tahun. Festival seni yang konon disebut sebagai gelaran teater tertua dalam sejarah Jakarta tersebut adalah bentuk wadah ekspresi, menumbuh-kembangkan individu (dalam hal ini seniman) untuk menyajikan suatu pertunjukkan seni (teater) yang dapat diterima di masyarakat luas.

Gubernur pertama DKI Jakarta, yakni Ali Sadikin merupakan seorang yang sangat memperhatikan bakat-bakat kreatifitas yang dimiliki oleh anak muda  Jakarta, terutama di bidang seni. Indie Jakarta berkesempatan melihat sekilas aktifitas festival teater tersebut dan berhasil mewawancarai salah seorang panitia acara Ratu Selvi Agnesia (Wakil Bidang Acara dan Non Lomba) melalui e-mail.Berikut adalah cuplikan wawancaranya :

Festival Teater Jakarta konon diceritakan sebagai perhelatan acara teater tertua, bagaimana sejarah singkatnya?

Festival Teater Jakarta (FTJ) digagas oleh Wahyu Sihombing, anggota Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Sekretaris Dewan Pekerja Harian DKJ, lalu diresmikan dengan nama Festival Teater Remaja Jakarta pada 13 September 1973, oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki.

Cita-cita luhur dari pesta kesenian teater yang berdaya lomba ini bertujuan: Pertama, demi mendorong para seniman muda, terutama pegiat seni teater, untuk menumbuh-kembangkan kreatifitasnya. Kedua, melakukan pembinaan bagi kelompok atau grup-grup teater agar menjadi lebih baik dalam berorganisasi. Ketiga, menyuguhkan hasil karya seni yang pantas bagi masyarakat.

FTJ yang konon telah menjadi festival teater terlama di Indonesia, dari tahun ke tahun penyelenggaraannya selalu diminati kelompok dan grup-grup teater sebagai peserta dengan animo penonton yang cukup ramai. FTJ adalah juga lomba berjenjang, mulai dari FTJ Penyisihan di tingkat wilayah Kota Administrasi se-DKI Jakarta, dan FTJ Final di tingkat Provinsi DKI Jakarta.

Pada FTJ ke-42 tahun 2014 ini akan menampilkan 18 grup teater terbaik hasil seleksi FTJ Penyisihan di 5 wilayah Kota Administrasi se-DKI Jakarta ditambah dengan grup teater seeded (pemenang grup teater terbaik 1, 2 dan 3 pada penyelenggaraan FTJ 2013).

Apa saja yang di tampilkan pada acara pementasan teater yang ke-42 ini?

Festival Teater Jakarta 2014 akan berlangsung pada 5 Desember 2014 – 15 Desember 2014 (11 hari penyelenggaraan)  bertempat di Teater Luwes-Institut Kesenian Jakarta dan Teater Kecil-Taman Ismail Marzuki Jakarta. Pada tahun ini peserta lomba berjumlah 18 grup (15 grup peserta dari wilayah dan 3 grup dari peserta pemenang tahun lalu) adapun jadwal pertunjukan lomba dalam satu hari menjadi 2 grup yaitu pada Pkl. 15.30 dan Pkl. 20.00 WIB.

Selain program lomba adanya program pendamping lain seperti diskusi pertunjukan, sharing group diskusi post dramatic theater, diskusi Jakarta Kota Tenggelam, workshop seni rupa panggung, koran FTJ, warung FTJ dan panggung mini yang menampilkan live musik dan performan art di Jakarta (PANJAK), serta malam penganugerahan kepada para pemenang FTJ  tanggal 15 Desember menampilkan eprtunjukan I Think,,, Tonk, koreografer Yola Yulfianti dan Live Music Bonita & The Husband turut memperkaya rangkaian pada  Festival Teater Jakarta 2014.

Acara ini dibuat hampir kurang lebih sepuluh hari (5 – 15) Desember, kira-kira seperti apa persiapannya?

Persiapan kita antara 2-3 bulan, kami mempersiapkan keproduksian dari Gedung untuk pertunjukan 18 group, acara-acara yang dipersiapkan seperti diskusi, workshop dan lain-lain. Persiapan ini sangat singkat dan membuat kami harus kerja siang dan malam. 

Alasan kenapa tempat yang dipilih adalah Taman Ismail Marzuki?

Sejarah FTJ dari pertama kali tahun ke tahun selalu memilih Taman Ismail Marzuki sebagai rumah bersama

Teater selama ini identik dengan suatu suguhan seni yang lebih terkesan “bernilai” dan tak jarang hanya masyarakat dengan kalangan tertentu yang bisa menikmatinya. Punya tanggapan?

Teater sebagai bentuk seni synthetic (seni campuran) adalah peniruan dari realitas kehidupan, jadi sebenarnya teater sangat dekat dengan kehidupan seharian. Sebenarnya dianggap berjarak karena teater bermain di gedung dan mempunyai nilai-nilai seni yang filosofis, di banding masyarakat melihat band sehingga dianggap berjarak.

Bicara soal antusiasme, apa yang panitia FTJ rasakan dalam hal ini?

FTJ tahun ke tahun terasa luar biasa yang membutuhkan kekompakan dan tim yang solid, meskipun terasa singkat untuk sebuah festival.

 Tema “BEBAS” yang dipakai untuk tagline acara, pesan apa yang disampaikan dari  pemilihan tema tersebut?

42 tahun perjalanan FTJ, usia yang dalam perjalanannya telah mencapai kematangan sebagai gelaran teater yang riuh dan selalu ditunggu pelakunya.  Tahun ini, kami memberikan tawaran tema “Bebas..!!” secara artistik dan tematik dalam menyoal karya.

Berbagai program yang kami suguhkan dengan cinta, FTJ hadir untuk merespon pelaku teater, apresiasi penonton, isu sosial di Jakarta, gedung pertunjukan, infrastruktur teater hingga padaanimo masyarakat teater dan masyarakat umum di kota Jakarta. Kondisi ini menjadi persoalan penting untuk patut dievaluasi demi kemajuan teater di Jakarta kedepannya.

FTJ 42 tahun, lalu apa lagi?Masih banyak mimpi kami untuk memperistiwakan teater. Menengok ke belakang, mengevaluasi dan merenungi masa kini dan lalu bergerak ke depan untuk merajut peristiwa teater sebagai peristiwa pembacaan dinamika kota Jakarta. Untuk itu, mari merayakan kebebasan menuju kebaruan.

Menurut kalian, bagaimana perkembangan dunia teater yang ada di Indonesia khususnya Jakarta selama ini?

Kondisi Teater Jakarta stagnan dengan karya-karya berkualitas dan wacana yang baru.FTJ ini menjadi sebuah kanal untuk memunculkan seniman dan karya-karya yang mapan dan berkualitas, khususnya seniman-seniman muda.

Selain Festival Teater Jakarta, adakah keinginan untuk lebih luas cakupannya ke daerah-daerah lain? Misal, menjadi Festival Pementasan Teater se-Tanah Air?

FTJ adalah program tahunan yang didanai oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setiap tahunnya. FTJ menjadi wadah pemberdayaan untuk komunitas-komunitas Teater Jakarta dan mungkin untuk saat ini kami masih setia dengan Jakarta.

Terakhir, harapan untuk kelangsungan seni teater Indonesia kedepan seperti apa?

Kami mungkin lebih fokus ke Teater Jakarta. Jakarta merupakan salah satu bentuk kota multikultural yang kokoh sekaligus ringkih dengan keurbanan dan dinamikanya. Pada setiap penghujung tahun, tepatnya pada bulan Desember menjadi momen yang tepat untuk merunut rekam jejak dan kilas balik proses kreatif perteateran di Jakarta.  Peristiwa apa sajakah yang terjadi dalam setahun terakhir di kota ini, terutama dalam konteks kesenian (baca: teater). Disinilah peristiwa Festival Teater Jakarta  (FTJ) selalu hadir dan mengada.

Festival Teater Jakarta yang awalnya bertajuk Festival Teater Remaja Jakarta sejak mula penyelenggaraaanya pada 1973, merupakan sebuah peristiwa teater yang diperuntukan bukan hanya sebagai ruang kreatif seniman teater sebagai individu yang gelisah dengan eksistensinya,  tetapi peristiwa FTJ ini pun berlaku pula untuk kelompok komunitas yang terpinggirkan untuk mendapatkan akses pengetahuan, informasi dan pergaulan.

Tekanan profesionalisme dan pragmatisme semakin keras menghantam seniman dan kelompok teater. FTJ hadir sebagai pemberdayaan sekaligus menjadi wadah bagi mereka yang ingin berkarya merespon dinamika masyarakat kotanya.