Pagimentari: Hadirkan Kenyamanan Bermusik Lewat Mini Album


Sampul EP Time To Shine/foto: istimewa / unknown
By: Ahmad Budiarjo
Posted: 20, May 2015

Pagimentari band pop alternative asal kota Bandung boleh saja merilis satu mini album pada senin (18/5) lalu, namun siapa yang menyangka kalau ternyata adalah band yang sudah lama terbentuk bahkan sejak delapan tahun kebelakang (2007). Disaat orang-orang lebih khusuk dengan intonasi musik pop yang begitu-begitu saja, pagimentari sepertinya salah satu dari banyak band yang belum terjamah ke khalayak luas.

Indie Jakarta sendiri sempat mengalami kerancuan saat menelisik identitas band ini, sepertinya mendengarkan band-band yang "under rated" itu menjadi pilihan yang tepat bagi kami untuk menelusuri kisah-kisah menarik dari mereka.

Balik lagi kepada persoalan pagimentari, berdasarkan sumber informasi yang didapat dari kanal soundcloud miliknya. Mereka mengakui kalau nama pagimentari adalah pilihan final nama kedua setelah sebelumnya band tersebut bernama Lampukota.

Mengaku terpengaruh dengan musik-musik model British dan Swedish,band yang berpersonilkan Yayan (Vokal), Lalan (Vokal), Uphei (Bass), Kumala Adi (Gitar), Moch. Rasyanda(Gitar),dan Isma Riadi(Drum)itu pertama kali (saat masih bernama Lampukota) didasari dengan kegemaran akan eksplorasi sound-sound bernada shoegaze, sangat berbeda dengan Pagimentari sekarang. Namun, sekian lama berjalan dengan memakai nama Lampukota, ternyata nama tersebut sudah digunakan oleh salah satu band yang menjadi finalis pada sebuah festival band ternama.

Mendengarkan beberapa lagu karya mereka di kanal soundcloud, kadang membuat perasaan mendengus dan sedikit berfikir: "jika saja efek rumah kaca dan pure saturday vakum, maka pagimentari sangat cocok menggantikan mereka perform di panggung-panggung seperti pensi SMA, misalnya." Coba saja dengarkan salah satu lagunya yang berjudul Vacation, itu sangat mirip dengan intro kosong milik puresaturday.

Tentang kabar mini album mereka yang diberi tajuk “Time To Shine” sendiri rupanya sudah dipersiapkan sejak lima tahun lalu, dan satu hal yang terasa spesial dari mini album tersebut salah satunya adalah lagu Bintang, sebuah tembang milik band indie lawas kota Bandung juga Cherry Bombshell, berikut adalah interview Indie Jakarta bersama pagimentari:

Tertarik  dan sampai-sampai agak sedikit sulit menemukan identitas kalian di google, ternyata terbentuk sejak 8 tahun yang lalu (2007). Bisa cerita sedikit?

Hehe, Berawal dari hobi yang sama yaitu nonton gigs musik bareng sejak jaman kuliah, lalu terbesit untuk bikin band dengan harapan bisa perform dengan membawakan karya sendiri.

Di kanal youtube kami melihat penampilan kalian dan membaca deskripsi dibawahnya, katanya band ini sempat mencari seorang drummer selama dua tahun?

Dalam proses bermusik, kita memang sempat dibantu beberapa kawan, sampai akhirnya kita menemukan isma, dan selepas isma mundur, kita dibantu fikry sebagai session player sampai sekarang.

Bagaimana selama delapan tahun ini kalian rasakan?

8 tahun memang tidak sebentar, setidaknya banyak pelajaran dan pengalaman menyenangkan dan menyedihkan. Dan dari pengalaman itu bikin band serasa keluarga kedua bagi para personil hehe.

Eh ya, btw, kalian penggila The Cure dan Stone Roses? Hal apa yang membuat kalian suka kedua band tersebut?

The cure dan stone roses tentu menjadi favorit kita disamping band-band asal inggris lainnya, karena ciri khas karya mereka jadi sumber referensi dan inspirasi untuk karya kita. Ya biar ketularan khasnya aja sih hahaha

Lalu soal mini album kalian, baru rilis di tanggal 18 Mei ini. Makan waktu berapa lama pembuatannya?

Untuk pembuatan mini album kurang lebih memakan waktu 5 tahun.

Kenapa hal yang dipilih extended play (EP) padahal kalian sudah berjalan lebih-kurang 8 tahun?

Masalah klasik, karena kendala waktu sama budget hehe. Kebetulan kita bukan fulltime band, hanya main band sebagai passion saja.

Dalam mini album tersebut ada cover version dari lagu milik Cherry Bombshell? Gimana tuh kejadiannya? Kalian ngefans dengan mereka ya?

Iya benar sekali, kami fans mereka, pada awalnya kita hanya berencana merilis 5 lagu untuk ep, tapi kita dapet tawaran dari manager cherbom sendiri buat cover salah satu lagu mereka dan kita memilih lagu “Bintang” dari album pertama mereka  dan part drum di lagu ini diisi oleh drummer cherbom sendiri yaitu mas arief.

Artwork sampul album kalian nih,  sepertinya sangat minimalis (tidak terlalu ramai dan tidak terlalu mencolok) siapa yang membuatnya? Cerita lagi dong sedikit?

Yang bikin Fahni, manajer kita, kebetulan dia suka bikin artwork. Katanya sih inspirasinya diambil dari ruangan keluarga dirumahnya yang nyaman, ruangan yang selalu pertama kali liat setelah kamarnya setelah bangun pagi, jadi ya mudah mudahan bikin lagu kita nyaman didengar juga sih hehehe

Dari nama “LampuKota” menjadi “Pagimentari”, ini seperti  ibarat yang tadinya  anak yang doyan keluyuran malam menjadi anak yang suka bangun pagi? Hehehe

Pada waktu pertama kali terbentuk, warna musik kita cukup kelam, makanya dikasih nama “Lampukota”, berhubung saat itu di indiefest sudah ada band yang memakai nama “Lampukota” dan mereka lebih keren dari kita, kita mengurungkan niat untuk memakai nama itu dan merubah warna musik jadi lebih ceria tapi sadis hahaha, ohya pada tahun 2012 kita ada manggung di Yogya dan tidak disangka-sangka berkesempatan satu panggung dengan mereka haha.

Terakhir, Bisa simpulkan band kalian dengan satu atau dua kalimat sederhana?

“Menemani kalian saat bangun pagi” ha ha ha.

Tentang mereka sila ikuti perkembangannya di:

Twitter: @PagiMentariBand

Kanal Soundcloud klik disini